Demam tifoid masih menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara yang endemis.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi ini berkaitan erat dengan sanitasi, akses air bersih, keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta tata laksana medis yang tepat.
Karena itu, vaksinasi tifoid perlu dipahami sebagai bagian dari strategi pencegahan yang komprehensif, bukan sebagai satu-satunya intervensi.
Dalam laporan Bio Farma,kehadiran Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi Bio Farma, menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pencegahan penyakit menular di Indonesia.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, menyampaikan bahwa pengembangan Bio-TCV tidak hanya dilihat dari sisi ketersediaan produk, tetapi juga dari perluasan manfaat bagi kesehatan masyarakat melalui prinsip Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptance.
“Bio Farma memastikan Bio-TCV tersedia secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas produksi nasional sebagai fondasi kemandirian vaksin Indonesia. Kami juga berupaya memperluas akses dengan memperkuat pasar nasional serta menjajaki dukungan terhadap Program Imunisasi Nasional agar semakin banyak masyarakat memperoleh perlindungan dari tifoid. Dari sisi keterjangkauan, kami berkomitmen untuk menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga kompetitif agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. Sementara itu, penerimaan terus kami bangun melalui kolaborasi dengan organisasi profesi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi serta edukasi berbasis bukti ilmiah agar manfaat vaksinasi tifoid semakin dipahami dan dipercaya ,” ujar Fitri
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyampaikan bahwa BPOM mendukung inovasi dan pengembangan vaksin nasional sepanjang memenuhi standar regulasi yang berlaku.
“BPOM mendukung pengembangan inovasi vaksin nasional melalui pendampingan regulatori yang tetap mengedepankan pemenuhan standar mutu, keamanan, dan khasiat. Status BPOM sebagai WHO Listed Authority untuk fungsi regulasi produk vaksin menunjukkan bahwa sistem regulasi vaksin Indonesia telah memperoleh pengakuan internasional. Hal ini menjadi pondasi penting untuk memperkuat kepercayaan terhadap produk vaksin yang dikembangkan di dalam negeri, sekaligus mendukung daya saing industri vaksin nasional,” ungkap Taruna.
Bio-TCV telah melalui proses pengembangan yang panjang, mulai dari kerja sama riset dan transfer teknologi, uji klinis, evaluasi regulator, hingga persetujuan pemasaran.
Proses pengembangan produk mencakup transfer teknologi pada 2013, studi praklinis, uji klinis fase I, II, dan III, hingga registrasi BPOM pada 20 Agustus 2023. Uji klinis fase III melibatkan 3.071 subjek dengan rentang usia 6 bulan hingga 60 tahun
Vaksin Konjugat Tifoid (TCV) adalah vaksin generasi terbaru untuk mencegah penyakit tifus yang direkomendasikan WHO karena efikasinya yang tinggi.

Komentar
Posting Komentar