PT Bank Maybank Indonesia Tbk.membukukan Laba sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp397 miliar pada kuartal pertama tahun 2026
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank) membukukan Laba sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp397 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 (1QFY26).
Bank membukukan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp1,81 triliun, meningkat 2,1%, didukung beban bunga yang menurun serta komposisi pendanaan yang membaik. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil pada level 4,3% Y-o-Y.
Meningkatnya volatilitas pasar akibat tekanan geopolitik global telah berdampak pada aktivitas perdagangan Global Markets (GM), khususnya transaksi surat berharga dan valuta asing.
Dengan demikian, pendapatan terkait aktivitas GM turun menjadi Rp20 miliar dari Rp107 miliar.
Pendapatan non-GM mencatat penurunan sebesar 17,6% Y-o-Y menjadi Rp382 miliar, seiring dengan menurunnya pendapatan recovery, meskipun, pendapatan fee terkait Premier Wealth tumbuh 20,0% Y-o-Y serta pendapatan fee terkait bisnis ritel yang membaik. Gross Operating Income tercatat sebesar Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban operasional naik 4,5% Y-o-Y sehubungan dengan kenaikan biaya tenaga kerja dan administrasi sejalan dengan aktivitas bisnis Bank.
Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar, sedangkan beban pencadangan turun 47,9% Y-o-Y menjadi Rp123 miliar, mencerminkan kualitas aset membaik serta penerapan manajemen risiko yang pruden.
Fundamental bisnis inti tetap kuat. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit di beberapa segmen diiringi profil pendanaan yang membaik. Namun, dengan Pendapatan Non-Bunga yang menurun, laba sebelum pajak (PBT) turun 21,5% Y-o-Y demikian juga PATAMI turun 20,5% menjadi Rp299 miliar.
Kualitas aset membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,3% (gross) dan 1,4% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2025.
Kredit non-ritel CFS mencatat pertumbuhan sebesar 7,1% Y-o-Y menjadi Rp39,89 triliun ditopang oleh pertumbuhan kredit segmen komersial (Business Banking) sebesar 15,6% menjadi Rp17,46 triliun dan kredit segmen Small and Medium Enterprise (SME+) yang tumbuh 12,3%. Kredit segmen non-ritel SME (RSME) turun 3,0%.
Kredit ritel CFS tumbuh 4,1% Y-o-Y didukung pembiayaan otomotif anak usaha yang meningkat 7,4% serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7%. Kredit CFS ritel dan non-ritel tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun.
Portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) mencatat penurunan sebesar 12,4% Y-o-Y. Namun demikian, kredit segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah menunjukkan peningkatan dan dibukukan pada kuartal selanjutnya.
Pada Maret 2026, total kredit yang disalurkan tetap stabil sebesar Rp121,99 triliun dan total aset tercatat sebesar Rp192,17 triliun, naik 1,2% Y-o-Y.
Simpanan nasabah meningkat sebesar 6,1% Y-o-Y menjadi Rp118,35 triliun didorong pertumbuhan Giro sebesar 37,5%, sementara Tabungan turun sebesar 1,9%. Deposito berjangka turun 12,3%, sejalan dengan upaya Bank untuk memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana. Rasio CASA meningkat menjadi 61,2% pada Maret 2026 dari 53,0% pada Maret 2025.
Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2%.
Likuiditas tetap sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only sebesar 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only sebesar 112,4%.
Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4% Y-o-Y menjadi Rp32,23 triliun didukung pembiayaan Community Financial Services (CFS) dan Global Banking (GB) syariah. Pembiayaan syariah CFS meningkat 10,4% menjadi Rp23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3% menjadi Rp9,07 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME+ dan Retail SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1% dan 6,0%. Pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5% menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7%. Sementara itu, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2% Y-o-Y.
Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), sementara total aset Syariah menyumbang 24,5% terhadap total aset Bank (Bank-only).
Melalui Perbankan Syariah, Maybank Indonesia meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. SRIA dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi dalam membiayai suatu badan usaha. Dalam pelaksanaannya, Bank bertindak sebagai arranger, dan hingga kini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.
Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5% menjadi Rp35,50 triliun didukung oleh pertumbuhan Giro dan Tabungan (CASA) sebesar 28,8% Y-o-Y. Giro tumbuh 60,1% menjadi Rp14,22 triliun dan Tabungan tumbuh 1,5% menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5% Y-o-Y sejalan dengan upaya Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan. Rasio CASA meningkat menjadi 69,1% pada Maret 2026 dibandingkan 57,6% pada Maret 2025.
Kualitas aset membaik dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2025. Financing-to-Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 85,4%.
Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) Perbankan Syariah meningkat 20,9% Y-o-Y didukung pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 5,9% diiringi biaya dana yang menurun. Pendapatan operasional lainnya juga meningkat 18,1% Y-o-Y didorong pendapatan fee dari pembiayaan yang disalurkan dan transaksi reksa dana, khususnya, Shariah Wealth Management (SWM).
Beban pencadangan turun 69,8% Y-o-Y setelah Bank melakukan pre-emptive provisioning pada tahun sebelumnya dalam rangka menjaga kualitas aset.
Pada kuartal pertama 2026, Perbankan Syariah membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp226 miliar, meningkat 52,1% Y-o-Y dibandingkan Rp149 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar.
“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal. Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group.”
Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 terdampak pada volatilitas pasar. “Dari segi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental merupakan hal yang tepat sejalan dengan arah strategis ROAR30 yang telah kami canangkan di Maybank Group.”

Komentar
Posting Komentar