Langsung ke konten utama

Dividen final PT Astra International diusulkan sebesar Rp292 per saham

 Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya.

Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik. Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal.

Dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.,ujar Djony Bunarto Tjondro

Presiden Direktur PT Astra International

Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada tahun 2025 adalah sebesar Rp323,4 triliun, 2% lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2024. 

Laba bersih Grup mencapai Rp32,8 triliun, 3% lebih rendah dibandingkan tahun 2024. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru, yang diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.

Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8% menjadi Rp5.692.T

Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024. 

Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.

Dividen final sebesar Rp292 per saham (2024: Rp308 per saham) akan diusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan pada bulan April 2026. 

Dividen final yang akan diusulkan tersebut, ditambah dengan dividen interim sebesar Rp98 per saham (2024: Rp98 per saham) yang telah dibagikan pada bulan Oktober 2025, akan menjadikan total dividen yang diusulkan untuk tahun 2025 sebesar Rp390 per saham (2024: Rp406 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%.

Laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas Grup tetap stabil sebesar Rp11,4 triliun, didukung oleh kinerja bisnis sepeda motor dan komponen, meskipun volume penjualan mobil yang lebih rendah di tengah lemahnya pasar nasional.

  • Penjualan mobil secara nasional menurun 7% menjadi 804.000 unit pada tahun 2025, mencerminkan penurunan daya beli pada segmen entry-level. Namun demikian, di tengah persaingan yang semakin ketat, pangsa pasar Astra dapat mencapai 51%.
  • Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 1% menjadi 6,4 juta unit pada tahun 2025. Pangsa pasar PT Astra Honda Motor masih tetap stabil sebesar 78%.
  • Kontribusi laba bersih bisnis komponen otomotif Grup, PT Astra Otoparts Tbk, meningkat sebesar 18% menjadi Rp1,8 triliun pada tahun 2025, dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.
  • PT Serasi Autoraya, bisnis solusi transportasi dan logistik Grup, mencatat jumlah unit kontrak meningkat 3% menjadi 28.400 unit.
  • OLXmobbi, bisnis mobil bekas Grup, membukukan penjualan mobil bekas yang meningkat 21% menjadi 33.100 unit.



Komentar